Friday, December 19, 2008

Persetan Kata...

INILAH aku, manusia yang rentan dengan manipulasi kata. Aku punya mulut yang tidak seksi, tenggorokan yang menempel pada leher, juga system otak yang bekerja dengan kode-kode kata. Aku suka menjadi pemarah, sehingga sering keluar kata-kata keras dan pedas dari mulutku. Orang memanggilku Persetan kata, karena kesukaanku pada omelan dan ocehan. Mereka mungkin ada benarnya karena aku mempunyai tesis-prinsip: Setiap kata digunakan, setiap itu pula dusta menjadi penting. Mereka menganggap aku sebagai pendusta kata. Dan aku tidak peduli.


Aku terlahir dengan kekosongan kata, tapi pendidikan memaksa aku untuk memakai kata-kata dalam mengoleksi ilmu. Semakin banyak kata yang aku koleksi, semakin mereka menganggapku orang yang pintar dan cerdas. Bahkan karena sifat anehku, yaitu mencuri buku-buku yang temen-temenku emoh membacanya, aku dikira pintar. Bukan aku sebagai maling! Dusta, sejak saat itu, aku nikmati dengan sangat baik dan melezatkan egoku.


Aku tumbuh dengan memakan kata demi kata, yang orang-orang di sekelingku menganggap aku orang dari dunia masa depan yang sangat membutuhkan kata, bukan nasi, hamburger, ayam goreng, pizza atau bercinta dalam hangatnya pacaran atau bersetubuh dalam kemesraan suami-istrti atau sang penguasa yang duduk gagah di atas singgasana politik.


Aku tidak begitu peduli dengan agama yang aku anut, karena agama yang diajarkan oleh ustadku tidak mengajarkan aku memakan kata-kata. Aku berperut yang lapar kata. Yang mereka ajarkan padaku adalah kesunyian aqidah yang mengharuskanku untuk tidak berimajinasi dengan kata-kata tentang Tuhan. Mereka, para ustadku melarang aku menggunakan kata untuk menyebut Tuhan. Meskipun, mereka sebenarnya lebih banyak menggunakan kata-kata dari pada mengungkapkan Tuhan itu sendiri. Bagi mereka Tuhan, menurut amatanku, tidak lain adalah kata-kata. Mereka mereduksi Tuhan dalam kata. Aku tidak pernah tahu Tuhan itu sendiri selain kata-kata tentangnya.


Akulah kata. Aku ingin membebaskan kata. Tapi sejak kecil kata-kata sudah menjadi tawananku sepanjang hidup. Ialah budak belia yang aku kawin paksa untuk memperbudaknya dengan kemesraan. Budak yang aku menangkan dalam peperangan dahsyat antar para pemikir, linguis, filosof, juga para pembantu rumah tangga, dalam arena politik, sosial, dan budaya. Kata-kata selalu melayani aku untuk berdusta tentang barbagai hal, politik, sosial, ekonomi, budaya, perempuan, tapi aku paling suka saat memperdayanya dalam hal nafsu birahi. Bukan apa. Tapi saat aku menggunakannya dengan penuh birahi, kata-kata sudah terbebaskan dengan sendirinya. Ia bukan lagi sebuah budak. Ia bebas mengelana dalam kenikmatan birahi, yang kita nikmati bersama tanpa status tuan-budak.


Pernah suatu kali ada seorang profesor bahasa yang menayakan padaku, saat aku menjadi mahasiswa, “Apa itu kata?” “Kebohongan bersama!” jawabku spontan, tanpa perlu membaca berbagai referensi. Tapi kau tahu, semua temen-temenku tertawa menggelikan. Juga diikuti oleh tawa pembenaran sang professor. Menurutku sang professor pasti bodoh. Tidak mengerti kata, apalagi menggaulinya di atas spring bed mewah. Ia tidak tahu rasanya bercinta dengan kata.


Aku tidak peduli. Akulah kata. Aku berhak memberikannya otonomi, kebebasan, kerangkeng rantai, atau memberikannya makan sayur asem pada siang hari. I love you kata; I hate you kata.


Akulah kata. Setiap kali aku kesepian, yang datang pertama kali pada ku adalah bukan pacarku, bukan ibuku, bukan temenku, bukan sanak saudaraku, juga bukan dosen atau Tuhan aku. Tapi perempuan kata dengan lemah lembut membelai jiwa-jiwaku dengan penuh kasih sayang, sehingga aku meningis tersedu. Ini sungguh benar-benar terjadi dalam jiwaku. Saat itu aku sudah punya pacar, tapi mendadak ia memutuskan tali percintaan kami. Aku ngambek, dan mendiamkan diri dalam kamar yang sepi, tanpa pintu terkunci. Tidak ada yang peduli selain kata. Ia datang menghampiriku dengan senyum. Ia datang menggandakan diriku dengan berbagai kata-kata dalam imajinasi dan otakku. Ia menghiburku, juga menerorku untuk melupakan terkasihku, untuk selamanya.


Sejak saat itu aku menjadi manusia yang paling enggan berurusan dengan kata-kata. Puisi-puisi yang aku tulis sendiri, juga puisi-puisi penyair terkenal dunia yang aku terjemahkan tidak ada yang berarti bagi pacarku. Ia membelot dari cintaku. Katanya,” Maaf, aku sudah punya kekasih yang lain. Kita putus saja sampai di sini.”


Aku mencoba menghibur diri dengan menyalakan televisi, bukan membaca novel atau cerpen atau membaca koran dan majalah yang pasti menggunakan kata. Ternyata semuanya menayangkan masalah cinta. Sekali lagi mereka mengulang masalah kata-kata yang pernah aku ucapkan, juga perkataan para penyair dunia. Aku membenci semua itu. Aku mencoba mencari saluran televisi yang lain. Juga, lagi-lagi aku temukan acara berita yang menggunakan kata-kata. Sekali lagi, mereka pasti menyimpan dusta dalam berita ini, karena mereka menggunakan kata.


Akulah kata. Aku tidak pernah percaya dengan manusia yang menggunakan kata untuk segala aktivitasnya. Alasanku sederhana: kata-kata bukanlah yang sebenarnya. Ia adalah symbol yang dengan itu mereka sebenarnya meninggalkan yang aslinya. Dan di balik penggunaan symbol ini mereka pasti menyimpan maksud-maksud pendustaan. Aku membenci semua makhluk bersuara dengan kata-kata. Saat mereka berkata, aku akan berseru dalam hati, “PEMBOHONG BESAR!”


Besok, saat aku mati, aku tidak ingin manusia mengucapkan kata-kata bela sungkawa. Juga, aku tidak ingin mereka menggunakan mantra-mantra agama. Sekali lagi, aku tidak ingin mereka menggunakan kata-kata pada batu nisanku. Aku membencinya. Aku emoh, ogah. Aku hanya ingin mereka cuma berekspresi dengan wajah-muka mereka, kalau mereka masih mau memperdulikanku yang membenci mereka dan punya muka. Ya, meskipun wajah-muka mereka nanti adalah sebentuk sindiran sinis atau ejekan kecut terhadap ragaku yang kaku.


Aku, saat aku mampus dengan nafas terputus, hanya ingin mawar yang berkata padaku dengan semerbak harum yang dibawanya. Meski saat itu aku sudah tidak membutuhkan harum bunga, juga mungkin doa-doa. Tapi itu sudah cukup bagiku, pembenci kata.


Aku hanya ingin ini tertera pada nisanku: MATILAH KAU KATA!

Labels:

Friday, September 12, 2008

Dosa(kah) Mahasiswa Sastra Inggris?

Pada teman-temanku yang mengambil jurusan linguistik dan juga sastra (aku masih ragu untuk mengikutsertakan Penerjemahan dan Kajian Amerika: pernahkah dosen kita memasukkan keduanya dalam ranah sastra?), “Selamat Anda termasuk Mahasiswa Sastra (Inggris)!” Pentingkah ucapan selamat ini dan kenapa, kalau memang penting, aku harus mengucapkan selamat?

Simply, kita sudah terstigma (disaklegkan) secara sosial-akademis, bahwa kita adalah mahasiswa sastra Inggris (Amerika). So, sudah seharusnya dan sepatutnyalah jika kita tahu dan belajar sastra dan linguistik. Namun yang menjadi kejanggalanku selama ini, mulai semester satu sampai semester enam kemaren adalah, aku—aku tidak tahu dengan teman-temanku—tidak pernah membaca satu karya sastrapun secara tuntas dan dengan pembacaan yang baik, baik itu puisi yang cuma beberapa baris apalagi novel yang berlembar-lembar.

Aku masih ingat saat Bu Nani memberikan tawaran (?) wajib untuk membaca novel Jane Eyre untuk mata kuliah Pengantar Kajian Prosa. Yang ada dalam pikiranku cuma dua hal: pertama, apakah aku akan sanggup membaca novel setebal lima ratus halaman lebih itu? Aku bingung apakah ini laik untuk dipertanyakan oleh mahasiswa sastra Inggris (?). Bukankah itu sudah seharusnya? Kedua, apakah Bu Nani benar-benar yakin dengan pilihannya, novel Jane Eyre? Apakah dia tidak tahu bahwa reading habit kita sangat memprihatinkan? Aku masih tidak percaya saat dia sudah menyodorkannya pada salah satu temanku untuk kita memfotokopi.

Dan yang lebih membingungkan, juga menjengkelkanku, adalah tidak ada seorang anakpun yang hendak menolak atau menggerutu terkait keputusan sepihak itu! Namun aku tahu, setelah Bu Nani keluar dan aku bertanya pada beberapa teman, ternyata mereka sebanarnya tidak setuju. Aku yang pada waktu itu duduk di depan pojok kanan sebanarnya ingin berontak dan meminta keringanan: 'mbokyo cerpen aja; kan sama-sama karya sastra! Lebih tipis dan ada jaminan akan dibaca sampai tuntas. So, kita bisa bahas dengan mendalam dan tuntas!'

Aku mencoba menenangkan diri dengan mengais sisa-sisa informasi yang tersimpan dalam otak, bahwa novel Jane Eyre adalah novel yang sangat bagus baik dari segi gaya penulisan, bahasa, dan tentunya isi yang sangat kontroversial-radikal pada zamannya: sebuah embrio pandangan feminisme; banyak kaum agamawan yang merasa dibakar jenggotnya di depan umum. Kemudian aku tahu, novel ini hampir senafas dengan novelnya Ayu Utami Saman dan Larung. (Inilah yang menjadi alasan Bu Nani. Logis.)

Maka yang terjadi adalah KITA hanya menonton filmnya, dan cuma membaca beberapa halaman yang hendak dipresentasikan. Semuanya cari sinopsisnya di internet. Aku masih ingat perasaanku saat teman-teman menanyaiku untuk memfoto kopi novel Jane Eyre: untuk apa aku memfotokopi buku yang tidak akan pernah aku baca, kalaupun iya paling cuma beberapa halaman? Akhirnya, karena alasan sosial aku juga memfotokopi. Aku tahu ada beberapa teman yang membaca lebih dari separuh, tapi sepengetahuanku mereka tidak mengambil jurusan sastra atau linguistik. Ya, semuanya nonton filmnya yang cuma sekita dua jam. Kalau bukunya?

Bukankah film dan novel, yang notabene tulisan itu, sangat berbeda? Yang satu audio-visual bergerak; yang satunya lagi adalah tulisan yang imajiner. Kita pun tahu bahwa sudah menjadi wacana umum bahwa setiap novel yang difilmkan tidak pernah benar-benar sama dengan yang asli (tulisan) sebab berbagai faktor. Banyak kritikus sastra dan film yang kecewa dengan adanya novel yang difilmkan (aku tidak perlu memberikan contoh untuk ini).

Ya, aku sebanarnya merasa berdosa. Anak sastra Inggris: nol baca buku sastra berbahasa Inggris! Belum lagi, ini aku tahu setelah agak sering membaca buku sastra Indonesia dan buku kritik sastra (berbahasa Indonesia), jurusan sastra (baik sastra Indonesia atau Inggris) tidak pernah atau sangat jarang menghasilkan (boro-boro meluluskan + sertifikat + ijazah) seorang sastrawan dan juga kritikus sastra! Aku semakin malu saat aku berkumpul dengan teman-teman anak TBS (Taman Budaya Jawa Tengah) yang sering ngeledek. Plus para pembicara dalam beberapa seminar dan workshop penulisan essai, kritik sastra, atau penulisan kreatif, mereka semua mencibir anak-anak sastra, yang nggak sastra banget!

(Kamu bisa bertanya pada diri dan hati sendiri: apakah ada dosen yang sastrawan yang lahir dari rahim jurusan sastra atau dosen yang sekaligus kritikus sastra yang benar-benar dari rahim jurusan sastra, dan diakui kekritikusannya oleh publik (sastra)? Jawabannya: Ada tapi suaaaaangggggggaaaat sedikit! Bisa dihitung dengan satu tangan yang cuma punya beberapa jari (ini masalah realitas sastra Indonesia. Sastra Inggris? Entahlah)! Tentang dosenku, yang aku hormati, kamu bisa bertanya adalah seorang di antara mereka yang benar paham masalah sastra Inggris baik klasik, apalagi yang kontemporer? Aku meragukannya, jika ada yang menjawab iya. Coba kamu pikir apakah ada dosen, paling tidak jurusan, yang berlangganan koran, majalah, atau jurnal sastra, apalagi menulis sastra dan kritik sastra dengan bahasa Inggris? Semua media ini mengabarkan perkembangan sastra yang cepat dan tercipta hampir setiap hari. Sempat dan mampukah mereka? Aku bukan meragukan kemampuan mereka. Bukan. Aku hanya mau mengatakan: mereka tidak punya aksessibilitas dan lingkungan yang akan mendukung mereka ke sana).

Aku toh pada akhirnya memilih Kajian Amerika dan bukan sastra atau linguistik. Aku punya beberapa alasan untuk ini dan, sayangnya aku tidak hendak menuliskannya di sini. Temanku Irfan Zamzami, mahasiswa sastra Inggris angkatan 2004 (cuma ada dua anak pada angkatan ini!) yang mengambil jurusan sastra dan juga karya sastranya[cerpen] pernah dimuat di koran lokal dan regional, mengatakah, “Fikri, satu-satunya teman saya di kelas sastra (bayangkan, betapa pragmatisnya mahasiswa sekarang, hingga kelas sastra hanya terdiri dari dua orang saja! hueh he heh),” (selngkapnya baca di blog fanzam.blogspot.com ). Dia ada benarnya saat mengatakan itu.

Tapi...ah. Apakah aku punya semacam dosa akademis?

Surakarta, 11 Sep. 08

Labels:

Wednesday, September 03, 2008

On Becoming an Americanist (2)

2/
Kajian Amerika (American Studies) adalah salah satu bidang kajian oksidentalisme yang sekarang mulai marak di beberapa universitas di Indonesia. Amerika sendiri bukanlah hal aneh dalam dunia wacana atau kajian tentang dunia barat. Hal ini tidak lepas dari sifat Amerika yang (1) jadi panutan sistem demokrasi yang ditopang oleh pengaruh luar negeri yang luar biasa (super power) dan (2) pengaruh amerikanisasi budaya pop yang dianggap sangat hegemonik hampir dalam semua bidang kehidupan. Amerika juga menjadi (3) produser para pemikir dan peraih nobel yang ditopang oleh universitas-universitas yang selalu masuk dan mendominasi dalam top ten university berdasarkan Time Higher Education Suplement.

Untuk yang pertama rasanya tidak mungkin mengabaikan pengaruh pemilihan presiden 2008 yang menampilkan tokoh utama Barack Obama, calon presiden kulit hitam pertama dalam sejarah Amerika. Gema “obamanisasi” begitu terasa di Indonesia yang akan mengadakan acara lima tahunan, pemilihan umum dan pemilihan presiden. Barack Obama membawa semangat pentingnya kepemimpinan pemuda. Kita tahu bahwa saat obama masuk dalam nominasi bakal calon presiden Amerika banyak analis yang menganggapnya masih bau kencur (baru umur 40-an) yang harus bersaing dengan Hillary Clinton seorang senator New York yang sudah cukup berpengalaman. Indonesia sudah merasakan dampaknya dalam berbagai perdebatan wacana pemimpin muda dan iklan-iklan politik perorangan dari para pemuda, sebut saja Sutrisno Bahir, Rizal Mallarangeng, Ratna Sarumpaet, Fajrul Rahman, dan sebagainya.

Amerikanisasi sudah menjadi keseharian dalam hidup kita. Kita tahu bahwa semua manusia muda pasti adalah pemilik kaos dan celana jins. Kaos adalah produk budaya pop yang pertama kali dipopulerkan oleh Marlon Brando pada tahun 50-an (kalau aku tidak salah, sorri agak lupa) lewat film Hollywood yang dibintanginya. Begitu juga dengan celana para cowboy itu juga produk dari budaya pop orang Amerika. Dalam hidup kita hampir tidak mungkin menyingkir dari yang berbau Amerika. Sekali lagi inilah amerikanisasi dalam kehidupan kita. Makanan cepat saji, boneka barbie yang terjual jutaan keping perhari, dan sebaginya, dan sebagainya. Semua itu ditopang oleh perusahaan (industri) multinational.

Kau tahu negara mana yang paling banyak mengeluarkan dana untuk pendidikan sepanjang sejarah kehidupan manusia? Jawabannya satu: Amerika (aku lupa jumlah sebenarnya). Tidak mengherankan jika Amerika selalu menjadi rujukan utama untuk belajar di luar negeri. Dan tentu saja Amerika selalu mendominasi penghargaan nobel ilmu pengetahunan sejak akhir perang dunia II. Para peraih nobel inilah yang jugi menjadi daya tarik tersendiri bagi orang-orang pinter dan punya duit untuk belajar di Amerika, karena inilah motor utama penggerak researh university seperti Princeton University, Chicago University, Cambridge University dan sebagainya.

Memang tidak berlebihan jika Micheal Elliott menulis, “The World Cup isn’t the only field that America can’t dominate” pada majalah Time edisi khusus 2007. Saya percaya bahwa Amerika masih akan terus berjaya sepanjang pendidikan dan industrinya masih berdiri tegak bersamaan dengan, tentu saja, politik gedung putih tidak menjeruskan keduanya pada kesia-siaan dan penghancuran. []

Labels:

Tuesday, September 02, 2008

On Becoming an Americanist (1)

“The World Cup isn’t the only field that America can’t dominate”

Micheal Elliott, Essayist

1/

Amerikanis (bandingkan dengan sebutan indonesianis) adalah pilihan ambigu berikutnya dalam hidupku. Aku sebenarnya sedikit sangsi untuk mengatakan “hidupku”. Alasan: aku tidak benar-benar memilihnya dengan penuh kesadaran dan pertimbangan matang. Ya, aku hendak menuju menjadi amerikanis dalam kajian oksidentalisme, dan aku tidak sungguh memilihnya (tapi aku harus menjalaninya dengan sungguh). Pilihan telah aku tetapkan untuk menjadi mahasiswa kajian Amerika (American Studies).

Aku masih ingat saat temanku mengatakan, “Aku tahu kamu pasti belum membuat keputusan. Kamu itu dari dulu seperti itu. Terus mau ngambil jurusan apa?” Aku sebenarnya sudah membuat keputusan: Kajian Amerika. Dalam menetapkan keputusan, aku memang sedikit berbeda dengan pertimbangan umum teman-temanku: fungsionalitas dan akselerasi. Dua alasan yang sekarang cukup dominan dan provokatif.

Dan aku? Begini: aku tidak punya bakat atau katakanlah kecenderungan yang mengarah pada fungsionalitas atau akselerasi. Yang ada adalam benakku saat aku harus memilih adalah karena aku memang tidak punya skill dasar, fungsionalitas (ilmu yang aplikatif), cita-cita, dan sebagainya. Aku Cuma sedikit punya kesukaan membaca dan parahnya bukan buku-buku bahasa Inggris. Dan, ini sedikit penting, teman-temanku yang mengambil jurusan kajian Amerika adalah, menurutku, mahasiswa-mahasiswa yang punya high spirit dan outstanding people dalam kelas kuliah (semoga aku mendapatkan efek domino dari mereka).

Labels:

Salah Satu

Kesalahanku dalam kuliah, yang aku tidak ingin mengakuinya, adalah aku datang untuk mempertanyakan bukan menerima, sebagaimana teman-teman yang lain.

Mempertanyakan dan menerima memang bukan sebentuk pertentangan, sebenarnya. Tapi jika dihadapkan pada realita perkuliahan di Indonesia, keduanya seperti berlawanan, kontradiktif (yang dipaksakan). Setidaknya itulah yang saya rasakan saat berada di depan dosen dan membandingkan aku dengan teman-teman. Sistem perkuliahan yang dijalani oleh teman-temanku adalah menerima, dan dengan sendirinya dosen adalah seorang pemeberi ilmu, meski tidak bisa dikatakan pemurah (bandingkan dengan buku-buku, internet dll.).

Dalam sistem menerima ini diandaikan bahwa otak kita adalah sebentuk wadah gelas kosong yang dengan siap sedia menampung, yang kalau bisa semua ucapan (ilmu?) sang dosen. Disini terlihat kebodohanku yang sudah karatan dan mungkin harus diloakan. Ya, aku hendak membuat arah yang berbeda, aku hendak mempertanyakannya dan bukan menerima.

Tapi bukankah yang kita isi itu adalah otak manusia yang memiliki sistem kategorisasi (seperti yang dikatakan oleh Immanuel Kant tentang semboyan Pencerahannya) dan kita tahu otak kita bukan otak hewan juga bukan cuma gelas dan sekali lagi bukan hardisc komputer.

Barangkali sudah nasib otakku yang tragis (saya harap otak manusia abad 21 tidak) yang sudah sering terjadi konsleting, bukannya terkomputerisasi secara digital-mekanistik. Aku merasa otakku juga sudah mulai kalah dan hendak menyerah dan tidak ada lagi tekad dan keberanian untuk mempertanyakan, mendebatkan, mendiskusikan, atau bahkan mempolemikannya segala sesuatu yang masuk dalam otak kita.

Apakah aku akan kalah dan menyerah untuk tidak mempertanyakan? Aku sebenarnya sudah tidak tertarik apalagi berkoflik dengan kekuasaan sistem pendidikan kita, tapi bisakah kita menjalani hidup tanpa mempertanyakan? []

Labels:

Sunday, July 13, 2008

Angka Nasib


“Dunia ini sebenarnya diciptakan berdasarkan kekuatan angka-angka”

Phytagoras

Secarik lembaran menakuti aku. Isinya mulai dari beberapa huruf sampai angka-angka yang sulit aku mengerti. Namun dia mampu mengusik aku yang lemah, naif dan malas. Menurut orang awam, akademisi, ilmuan yang ilmiah sampai dukun yang klenik, nasib aku di masa depan―juga beribu-ribu teman senasib-seperjuangan aku― sangat tergantung dan ditentukan oleh angka-angka itu. Semua percaya itu. Angka-angka itu mulai dari cuma angka nol sampai yang tertinggi empat. Banyak orang yang mengejar angka empat. Aku tidak tahu kenapa angka itu yang dijadikan angka tertinggi dan diperebutkan.

Sejarah angka telah melahirkan seorang filsuf angka/matematik kaliber dunia seperti Pythagoras. Sedangkan di daerah gurun pasir Arabia yang dihuni orang primitive, angka cuma sampai tujuh. Pada jaman modern orang lebih mengenal angka sebagai sesuatu yang tidak terbatas. Bahkan manusia modern tidak cukup punya nama jika angka itu di perpanjang. Seakan semua masuk dalam teori relativitas Einstein secara natural. Namun bisakah angka melahirkan tafsiran masa depan secara realistis?

Aku tidak begitu percaya jika tuhan menentukan nasib aku di atas rentetan angka. Memang tuhan terkadang memerintahkan hambanya, kalau orang Islam maka Dia memerintahkan pada mereka untuk menjalankan sholat lima waktu; dalam rakaat sholat ada yang menunjukkan angka empat sampai dua. Aku tidak pernah tahu kenapa dengan angka-angka itu. Aku tidak terlalu mempertanyakan. Apalagi mengajukan hak interpretasi karena kata para ilmuan agama, itu hak prerogatif tuhan bukan manusia.

Tapi bagaimana jika manusia ikut-ikutan memegang hak prerogatif tuhan? Berhakkah manusia yang untuk kelahirannya saja tidak bisa menentukan dari rahim ibu siapa dia akan muncul melihat dunia pertama kali? Tapi hidup penuh dengan saling mengklaim. Semua dengan penuh klaim kebenaran. Semua seakan berjalan di atas rel kebenaran. Lalu kenapa mereka sangat percaya dengan seonggok angka-angka?

Angka mitos dan angka pasti

Angka itu pasti. Begitu guru matematika aku dulu, saat menjalaskan pelajaran menghitung. Angka itu mitos dan ilusi. Begitu kata aku saat merenungkan angka sebagai representasi dan tafsiran nasib masa depan aku. Masa depan dengan segala kegelapan dan ketidakpastiannya adalah ilusi. Dia bukan tambahan, perkalian, pengurangan ataupun pembagian.

Lebih jauh angka bukan masa depan. Dan juga angka bukan teleskop futurologistis yang bisa menerawang ke alam masa depan. Mereka yang percaya berargumen dengan realitas masa kini bahwa angka-angka itu sebuah cermin diri: perilaku, prestasi, gengsi, bahkan keburukan, kenakalan lebih jauh kenaifan. Mereka berasumsi bahwa sekarang adalah cerminan masa depan. Aku pun berargumentasi: tapi bukankah setiap cermin selalu memutar-balikkan realitas pantulannya. Tangan kanan berganti tangan kiri. Dia tidak pernah bisa memantulkan realitas horisontal. Dia hanya bisa memantulkan realitas bayangan vertical dalam kekekalan horizontal. Jika dilihat secara seksama pantulan cermin sebenarnya adalah pseudo-reality, realitas palsu.

Metamorfosis angka

Angka itu multi-rupawan. Dia bisa mengubah diri menjadi jabatan tinggi, lembaran rupiah, kekuasaan, keagungan dan sebagainya. Mungkin Pythagoras tidak bisa membayangkan tentang evolusi angka seperti yang terjadi sekarang. Angka begitu keramat, sakti dan unpredictable. Semua tersihir oleh angka lebih dari seorang matematikawan.

Sekedar contoh kecil, keponakan aku, anak TK menadapatkan hadiah yang tidak terbayangkan oleh hayalan imajinatif anak kecil, boneka Barbie yang berpakian manusia modern. Padahal anak kecil selalu menirukan orang tuanya tentang anak kecil, tapi kali ini tidak. Boneka tersebut begitu dewasa melebihi si empu yang akan dia jadikan idola panutan.

Saat aku bertanya pada ibu anak tersebut, apakah angka itu sangat menentukan masa depannya? Dia menjawab dengan rasa ragu dan sedikit tawa. Sekali lagi saya ajukan pertanyaan sama untuk mendapatkan jawaban yang pasti. Dia tidak langsung menjawab pertanyaan saya, namun jawabnya kemudian, “Dengan anak saya senang, itu sudah cukup.”

Topeng angka

Seorang cerdik-pandai tidak akan bisa memastikan masa depan berdasarkan angka-angka atau nomorologi: ilmu yang digunakn untuk meramal keberuntungan atau kesialan seseorang berdasarkan angka. Bahkan Daniel Golemann menyatakan dalam bukunya yang fenomenal, Emotional Intelligence, bahwa angka-angka yang disandang oleh para penuntut ilmu di universitas unggulan cuma beperan 10 % dalam penentuan keberhasilan masa depan.

Kenapa banyak orang yang mengandalkan angka sebagai tolok ukur keberhasilan masa depan? Apakah benar kita kembali pada jaman nenek moyang kita, dimana dalam menentukan kegiatan atau aktivitas selalu berpatokan pada angka-angka terutama angka ganjil. Mungkin kehidupan semakin ganjil. Aku kuatir semua itu cuma topeng penghibur. Topeng yang akan mengaburkan wajah aku yang sebenarnya. Wajah aku yang jelak sangat tidak diharapkan ditutupi oleh topeng dusta. Biarlah wajah ini apa adanya, real face.

Aku cuma manusia yang ingin “aku berfikir maka aku ada” atau aku berkarya maka aku berjaya setidaknya untuk ukuran yang aku mampu. Mungkin Pythagoras benar. Bisa juga salah, namanya juga manusia. Aku juga manusia.

Labels:

Thursday, July 03, 2008

Hantu-hantu Mahasiswa

Kematian, dalam pandangan beberapa mahasiswa, justru semangat yang tak pernah mati. Aku membayangkan, jika seorang mahasiswa mati (Maftuh Fauzi, sekadar contoh yang mendapatkan tempat di hati sebagian mahasiswa baru-baru ini dan dimaklumkan dalam sepanduk[di UNS]), ketika atau setelah berdemo, saat itu juga ia sudah tidak mati lagi. Ia seakan kekal, menjadi hantu-hantu yang akan bergentayangan memompa semangat kawan-kawannya yang lain. Sang kawan lalu berseru lirih dan dalam, “Perjuanganmu akan kami teruskan, kawan!”

Kematian mahasiswa lebih menyentuh jiwa manusia (setidaknya bagi mahasiswa), lebih bergemuruh dalam benturan-benturan beribu kematian lainnya, bahkan lebih mengehentak dari pada maklumat Nitetzsche di pasar-pasar, “Tuhan telah mati.” Di Indonesia, penguasa terpelanting dari kursinya yang kokoh.

Ada semangat yang dikobarkan oleh nilai-nilai dalam kematian. Namun justru ketika kematian membawa nilai, saat itu juga kematian seakan membentangkan keangkuhan dan kekuasaannya kepada kita.

Kematian menjadi pintu menuju ke situ. Orang yang mati, jasadnya memang tidak akan pernah memberikan semangat dengan verbal, seraya berorasi menyemangati kawan-kawanya dengan lantang. Ia sudah tiada, tapi bukan tidak ada. Kematian menjadi pintu yang, mungkin, sangat dibutuhkan oleh manusia, para mahasiswa. Di sini si mayit menapaki eksistensinya: ia sungguh ada dan menggugah. Sumung ning isi. Ia persis seperti pintu untuk ruang-ruang memompa semangat bagi perjuangan berikutnya: dan ia halte, sekaligus. Dan untuk itu perlu ceremonial yang mewah, mungkin, seperti adat orang Toraja.

Di situ kematian menjadi tragedy yang manis dan orang tidak perlu bersikap sinis. Puluhan mahasiswa mati setelah berteriak “Hidup Revolusi!”, “Tuntaskan Reformasi!” Namun bukan kata-kata itu yang melambungkan semangat muda mereka, melainkan kematian kawan-kawan mereka. Soekarno dan Soeharto turun terpelanting dari kursinya. Puluhan media dan jutaan manusia merayakannya.

Adakah kematian semacam kurban (berarti “dekat” kepada Tuhan dari bahasa Arab, yang ada dalam tradisi agama Ibrahimi seperti dalam Islam) dan saat sang penguasa lalim maka ia diperlukan bahkan kewajiban seperti yang tidak bisa dihindari dalam revolusi? Atau jangan-jangan selama ini yang terjadi hanya ritual yang menghendaki tumbal, semacam pendekatan terhadap iblis dan setan di atas altar yang kita anggap suci?

Di sini kurban dan tumbal sulit dibedakan karena keduanya meniscayakannya sebentuk korban yang harus mati. Kurban memang sudah diganti dengan domba, lembu dan onta, tapi apakah Ibrahim dulu akan mengelak hendak mengkorbankan anaknya, dan bukan seekor domba?

Labels:

Saturday, June 14, 2008

Pergolakan

L

urus, zig-zag, dan fluktuatif. Kebenaran absolut, kepastian, dan sejenisnya mengarah pada hidup yang seolah melaju di jalan tol yang sangat lurus dan bertujuan jelas. Orang sering mendambanya, lalu mencari, menciptakan seperti yang kita lakukan dalam pendidikan dan pembelajaran. Dalam bersikap, orang yang memiliki karakteristik seperti itu sering dikatakn DEWA-sa. Pada posisi puncaknya, sering orang ini dijuluki orang yang arif bijak bestari.

Aku sering was-was bahkan curiga terhadap orang ini (adakah mereka?), lebih tepatnya pada anggapan orang yang mengatakan demikian. Ide-ide, pemikiran, ataupun gagsan dalam hidup yang dijalani ini, menurut saya, bisa dikategorikan menjadi dua: yang dipastikan dan yang diragukan.

Di bawah kendali otak dan emosi manusia, bisa dihitung dengan jari sesuatu yang pasti dan disepakati (ini menjadi pengecualian dari yang dua tersebut). Lalu, untuk itu, memastikan dan mensepakati, aku menduga, setidaknya mulai mengarah pada yakin, bahwa semua itu Cuma dipastikan atau lebih tepatnya hanya sekadar diyakini sebagai pasti bukan kepastian itu sendiri. Dengan kata lain, semua itu masih diragukan sebenarnya.

Tuhan, kebenaran, hukum (bahkan dalam ilmu alam), teori, universalisme apapun… cuma sederet bukti kecil. Tidak ada kepastian, tampaknya. Yang ada hanya yang dipastikan, yang mereka arahkan sebagai yang diyakini.

Aku sering curiga pada yang-dipastikan dalam yang-diyakini. Di balik semua itu: pemaksaan, pemerkosaan dalam segala bentuknya, kekerasan, pembunuhan, pembakaran, pemenggalan…

Aku memang merindukan kepastian—bukan yang dipastikan dengan paksaan yang halus ataupun kasar. Tapi bukan seperti yang dilakukan oleh agamawan atau ilmuan. Bagi agamawan, kepastian hanya sebidang tembok yang kokoh dan lurus ke atas yang sering dibangun dengan apriori. Bagi ilmuwan, kepastian sering seperti jalan yang dilalui dengan zig-zag dengan arah dan tujuan yang sering berubah, meski sering dengan cara aposteriori.

Aku hendak berdiri di antara keduanya: berfluktuatif, bergolak.

Surakarta, 11 Juni, 2008

Labels:

Saturday, June 07, 2008

Kejutan Yang Berlanjut

“It needs decades to have

a masterpiece writing,

but it just needs a night

to make somebody (girl) pregnant”

K

utipan itu tertera jelas dengan warna biru dalam sebuah buku yang berjudul “Jurnalisme Sastra”, yang ditulis oleh Septiawan Santana Kurnia (2002). Buku pertama tentang jurnalisme sastra (bandingkan dengan buku kumnpulan jurnalisme sastra yang diterbitkan oleh Pantau) di Indonesia dan, ini yang penting, ditulis oleh orang Indonesia. Buku itu sekarang berada di tanganku.

Sudah lima hari sejak seseorang, yang dia namakan dirinya atau lebih tepatnya meminta dipanggil “Chemitz”, hendak memberikanku “sesuatu”. Seorang cewek, yang berdasarkan sebuah “polling” yang pernah aku lakukan terhadap responden teman sekuliahku, dikatakan cantik, dan fashionable. Sebuah polling yang tidak resmi tentang “siapa yang paling cantik dan paling seksi di kelas kuliah.” Hal senada juga dikatakn oleh beberapa teman dari luar jurusan.

Pagi ini, saat aku akan memasuki ruang kuliah 307 yang berada di pojong paling atas lantai tiga, dia melambaikan tangan disertai senyum. Suatu pemandangan yang belum biasa. Ya, terutama dengan orang “cuekis”, yang paling cuek (penganut paham Cuekisme, dari kata cuek), seperti diri ini. Aku tidak menyangka dia akan memberikanku sebuah buku yang bagus. Aku masuk ke ruang kuliah sedikit terlambat.

Dia ternyata mau memberikan “sesuatu” itu. Sebuah buku yang di kover depannya tertera dua tulisan: “Property of MiTzKiM 17/04/06” dan “Sudah dua tahun aku beli tapi satu babpun belum aku baca!!” Entah apa dibalik tulisan itu. Sebentuk “kekecewaan” pada diri sendiri? Sepertinya tidak. Atau, memang buku itu sebenarnya tidak “sesuai” dengan keinginan pemebelinya? Entahlah. Aku melihat buku itu sebenarnya sedang menunggu manusia untuk membacanya. Dan sepertinya orang itu aku (semoga aku menjadi pembaca yang baik)?

Aku yakin tulisan yang kedua itu belum lama tertera di kover depan buku yang didesain layaknya buku sastra dengan ornament dan ilustrasi patung abad pertengahan, cewek yang memegang bolpen, orang yang sedang membaca Koran, dan seorang laki-laki sedang menunggu inspirasi hendak menulis. Sebuah buku pedoman tentang jurnalisme sastra.rna tulisan yang kedua itu menggunakan tinta warna biru, persis dengan tulisan kuotasi dan tulisan dalam selembar kertas.

Ada yang menarik dari tulisan kuotasi dan selembar tulisan yang menyertainya, semacam pengantar sang pemberi. Bukan saja pada tulisan itu tapi pada “sejarah” dibalik keduanya dan sekaligus yang menjadi “pemicu” dibalik sebuah buku itu, sehingga bisa berada ditanganku. Sebuah kisah inspiratif, mungkin.

Di sore yang sedikit berbeda karena seorang teman datang dan sedikit ngobrol yang berujung debat tentang sesuatu cerita. Cerita dipicu oleh seorang mahasiswa kedokteran UNS angkatan 2007 bernama Fredy yang hendak membeli buku “how to” persahabatan. Tapi dia ragu dengan lebel harga yang di atas 50-an ribu.

Untuk menghilangkan keraguannya, tapi bukan untuk membujuknya apalagi memaksanya membeli buku tersebut, akhirnya aku bercerita tentang dua orang tokoh nasional: Bung Hatta dan Bung Syahrir. Cerita ini sebenarnya aku kutip dari tulisan Goenawan Mohamad (lihat tulisan aslinya di bukunya Goenawan Mohamad yang berjudul “Setelah Revolusi Tidak Ada Lagi’).

Dikisahkan bahwa Syahrir dan Hatta sedang menjadi tahanan politik kolonial Belanda di pulau Banda Naira tahun 1942. Syahrir digambarkan sebagai orang yang sangat mencintai anak-anak sehingga dia mengadopsi tiga orang anak. Sedang Hatta tetap kukuh tak bergeming dengan buku-bukunya. Syahrir sering mengajak anak angkatnya berjalan ke pantai dan bermain di rumah yang ditempati oleh Syahrir dan Hatta. Suatu ketika Syahrir dimarahi oleh Hatta karena anak angkatnya menumpahkan air pada buku-buku kesayangan Hatta. Akhirnya Syahrir mengalah dan dia pindah ke rumah yang lain.

Adalah bulan Februari dan Jepang sudah menguasai Indonesia. Pada saat itu pulau Banda Naira akan dibom oleh Jepang. Hatta dan Syahrir harus segera pergi dari tempat itu. Syahrir dan Hatta dijemput oleh helicopter Catalina. Hari masih pagi dan mereka disuruh segera bersiap-siap. Hatta membungkus buku-bukunya ke dalam enam belas kardus; Syahrir Cuma membawa tiga orang anak angkatnya.

Permasalahan, karena buku-bukunya Hatta dan tiga anak angkatnya Syahrir, muncul. Helikopter Cuma muat untuk orang-orang saja. Buku-buku yang sudah dinaikkan terpaksa diturunkan lagi. Hatta mengalah. Syahrir gembira. Hatta menyesal seumur hidupnya karena buku-buku itu tidak pernah lagi ditemukan.

Sampai di sini perdebatan dimulai antara aku, temanku, Chemitz, dan Fredy. Pertanyaan pertama yang muncul: siapa seharusnya yang menjadi prioritas utama, buku atau tiga orang anak?

Fredy dan Chemitz memilih menyelamatkan manusia. Sebuah pandangan humanis yang sangat manis sekali. Sebuah nyawa tentu saja sangat mahal harganya, dan tidak pernah ada sebuah toko nyawa di seluruh sudut dunia ini. Bisa terjerat pelanggaran HAM jika tidak mengindahkannya.

Aku tentu saja membela enam belas kardus buku. Alasannya simple: jauh lebih susah menulis buku dari pada membuat seorang anak. Butuh waktu, kejeniusan dan referensi. Butuh bertahun-tahun untuk menulis buku yang berbobot dan berpengaruh mencerdaskan dan mencerahkan kehidupan manusia. Membuat anak, sebaliknya, cukup satu malam saja jadi dan juga bisa terjadi dengan orang gila yang tidak punya otak. Mereka berdua tertawa dengan argumen yang sedikit “porno” itu.

Fredy akhirnya mengukuhkan niatnya dan membeli buku “how to”-nya. Dia tetap tersenyum saat membeli dan memasukkan ke dalam tasnya.

Aku surprised, ternyata perkataanku yang sedikit porno itu tertera di dalam buku jurnalisme sastra dan dia, Chemitz, memberikannya padaku.

Ini adalah yang ketiga kalinya aku mendapatkan kejutan selain saat muka ini dijadikan kanvas dengan cat kue tar, lalu kejutan tengah malam di Manahan yang memaksa aku untuk menceritan sebuah “mimpi” jelek dan aneh (semoga mereka yang mendengarkannya lupa!).[]

Labels:

Wednesday, June 04, 2008

Tantangan (bagi) Tuhan

S

ejarah kekerasan dan yang akhir-akhir ini menghiasi kehidupan sosial kemasyarakatan kita, menurutku, sejatinya adalah tantangan bagi (kata) Tuhan. Orang akan menjadi curiga dan bertanya-tanya apa sebenarnya makna dari kekerasan yang biadab itu. Apakah kata Tuhan sebegitu bengis dan ganasnya dalam kehidupan kita sehingga setiap orang selalu dalam kontrol kecemasan dan ancaman? Atau, pada akhirnya, pentingkah Tuhan bagi manusia jika yang tampak selalu bukan (ke)Tuhan(an)?

Kondisi ini, jika dibiarkan terus berlanjut, akan menghasil manusia atheis yang lahir bukan dari perdebatan ontologis-filosofis. Tapi dari kekerasan fisik yang menjalar menjadi traumatis-psikis. Dan jika kondisi terus diperparah, maka ada benarnya apa yang telah dilakukan oleh orang-orang yang disebut atheis—meski mereka beragama tanpa Tuhan.

Benar pula jika kita harus membunuh dan membakar rumah Tuhan. Lalu, mengikuti Zarathustra, kita membuat maklumat di pasar-pasar yang disiarkan oleh seluruh media cetak dan elektronik: “Tuhan sudah mampus.” Memang, dia harus tumpas-tewas, barangkali.

Dan setelah itu, mungkin, kita bisa bercerita pada generasi mendatang: kita damai bukan karena kita dipenuhi oleh para nabi dan rasul yang bijak bestari, bukan karena kita sudah beragama dengan khusyuk, bukan karena “no more presidents”, bukan karena kita sudah sejahtera semua, bukan semua itu; tapi kita sudah bisa menyadari dan menghargai bahwa, ternyata, kita itu berbeda-beda dan kita sadar kita tidak bisa menjadi seragam oleh apapun itu, dan yang penting, Tuhan telah kita bunuh bareng-bareng, mengikuti para nabi dan rasulnya yang telah mendahuluinya. Tuhan?[]

Labels:

Saturday, May 31, 2008

Komen tentang teman

Jika sebuah komen utuh harus diberikan pada sebuah tulisan pribadi maka ini adalah kata-kata yang tepat tentangnya:

"Saya menulis untuk merekam apa yang telah dihapus orang lain ketika saya berbicara, untuk menulis ulang kisah yang telah ditulis secara salah oleh orang lain tentang saya, tentang mu. Untuk menemukan kembali diri saya, untuk menjaga kelangsungan diri saya, untuk menciptakan diri saya, untuk mencapai otonomi diri."
--Gloria Ahzalda

Ini adalah salah satu kutipan curhatnya, sebagai eviden kecil:

"Aku memang belum dewasa, seperti juga mereka. Aku butuh "teman", sebagaimana mereka. Ah, sudahlah. Aku sedang belajar hidup. Aku harus banyak menyesuaikan diri dengan mayoritas. Walau ini teramat sering kulakukan. Mau tak mau. Bukan berarti aku kalah dengan diriku sendiri. Bukan aku belajar menjadi orang lain, aku hanya ingin menjadi bagian dari lingkungan sosialku. Bagaimana aku dapat diterima, menjadi kawan seseorang dari kaum mayoritas, aku masih belum tahu. Yang jelas aku tidak mau memformat ulang otakku! Sekali lagi aku adalah aku!"

begitu!

Labels:

Sunday, March 23, 2008

Ilmuan Meninggalkan Penemuan; Wali Meninggalkan Kuburan



Hari itu adalah Jumat (21/08). Aku dan beberapa sanak keluarga kembali ke Solo pukul 09.00 WIB. Dari desa Banjar meluncurlah mobil yang kami naiki melewati Bangkalan, Kamal dan sebelum langsung ke Solo mampir di Surabaya, tepatnya ke makam Sunan Ampel. Ini yang pertama kalinya sepanjang sejarahku berangkat ke Solo dengan acara mampir ke makam. biasanya ke rumah teman atau ke TP (mall Tunjungan Plaza), atau paling tdak ke Matahari Departement Store Terminal Purabaya Bungurasih.

Hari Jumat, menurut orang-orang, adalah hari yang baik untuk berziarah ke makam para wali. Kami sampai di Ampel Denta (sebutan ini terkait dengan radio yang di asuh oleh mahasiswa yang belajar di Ampel dan sekitarnya) sekitar pukul 13.30. Dengan perasaan biasa saja karena sudah terlalu sering mengunjungi makam dan melihat kematian, aku masuk lewat pintu sebelah timur. Banyak mobil yang diparkir sampai mobil kami tidak mendapatkan tempat.

Langkah pertama aku dimulai. Di kanan-kiri jalan banyak pedagang berjualan pakain muslim, aksesoris islami, makanan islami seperti kurma dan sebagainya. Sebelum aku masuk ke kuburan aku mempir ke tempat wudhu untuk menyegarkan muka yang sudah kusut gara-gara tidur di mobil.

Lalu….dakkkkkkhhhh makam penuh sesak oleh manusia. Ah mungkin ini karena hari kemaren adalah ultahnya Muhammad Yang Terpilih, yang entah ke berapanya. Tapi hal ini selalu dirayakan.

Dan…ini berbeda dari yang biasanya aku rasakan pada saat berada di makam para wali. Kali ini ada “SETAN” yang berbisik ke aku: “Kenapa selalu banyak orang mengunjungi makam-makam para wali, kyai, ulama, dan orang-orang yag dianggap suci? Untuk berdoa kepada Tuhan Maha Pemurah? Jika iya, kenapa mesti di kuburan dan di tempat manapun, bukankah dengan ke-Mahamurah-annya Dia bisa mengabulkan apa saja tanpa melihat tempat dan siapa yang meminta?(Kalau tidak barang kali Tuhan punya sifat tidak adil?).

Kenapa juga mereka terus berkunjung ke makam? Apakah ini (makam) menjadi satu-satunya peninggalan para wali? Tidakadakah yang lebih keren dan lebih ilmiah untuk aku kunjungi? Semacam lembaga pendidikan yang maju? Buku-buku karangan mereka yang bermutu atau paling tidak perpustakaan lengkap? Bisa juga museum ilmu pengetahuan? Atau penemuan yang bisa aku banggakan dan aku ikuti jejak penemuan dan etos kepenemuannya?”

Uhhh…kenapa juga aku yang dipilih oleh setan!

Gara-gara “bisikan setan” ini aku tidak khusu’ membaca doa-doa. Aku ingin sesuatu yang “lain”. Aku kira sudah saatnya kita berwisata yang lebih fres dan sedikit lebih menambah ilmu yang sesuai dengan zaman kita.

Aku takut jangan-jangan itulah penyebabnya kenapa kita menjadi terbelakang dan terbelakang dan terbelakang…Oleh karena rasa takut itu, barang kali, seorang Abu Nawas yang katanya wali itu berpesan agar kuburannya (dan dilaksanakan): Ada bingkai pintu besar tanpa daun pintu memakai gembok hiper besar namun tanpa kunci dan yang paling aneh ada pintu namum semua area makamnya tidak ada tedeng aling-aling apa-apa sama sekali, Cuma sebungkah batu nisan tok!

Entah apa maksud dari sang sufi humoris kesohor itu. Aku was-was: jangan-jangan wali Cuma meninggalkan makam!? Dan oleh karena itu Abu Nawas membuat lelucon terakhirnya di makamnya sendiri supaya orang Cuma sekadar tertawa kalau pergi kekuburan!!!?

Surakarta, 23 Maret 2008


Labels: