JAKARTA -
Biaya masuk perguruan tinggi negeri bisa mencapai angka di atas Rp 100 juta, sementara setiap semester dapat mencapai Rp 70
juta.
...(headline KOMPAS,
Senin, 12 Mei 2008). Siapa yang mempunyai uang sebanyak itu? jawabannya pasti banyak orang Indonesia yang bisa membayarnya! Buktinya banyak juga orang Indonesia yang setiap Minggu pergi belanja di Orchid Road Singapura.
Sementara...
Penduduk Miskin Sulit Dikurangi
Dana Penanggulangan Kemiskinan Rp 58 Triliun
Senin, 12 Mei 2008 | 00:22 WIB Jakarta, Kompas - Target pengentasan kemiskinan yang diatur dalam Rencana Pembangunan Jangka Menengah Nasional atau RPJMN diperkirakan gagal tercapai. Ini karena banyaknya hambatan yang membuat penurunan jumlah penduduk miskin sulit dilakukan, antara lain akibat kenaikan harga minyak dan makanan.
Ada dikotomi bahkan paradoks situasional yang terjadi dengan bangsa ini. Belum lagi rencana pemerintah menaikkan harga BBM (awal April). Sudah pasti akan menambah daftar orang-orang miskin baru (OMB).
Sudah menjadi perdebatan klasik bahwa untuk mengentaskan kemiskinan sungguh tidak cukup hanya dengan memberikan bantuan langsung tunai. Orang pasti harus mikir kira-kira supaya bisa makan besok harus pakai apa? Dan di sini pentingnya sebuah lapangan pekerjaan. Saat kita membicarakan lapangan pekerjaan maka secara tidak langsung kita akan membicarakan SDM. Saat membicarakan masalah SDM, kita akan membicarakan, lagi-lagi, pendidikan.
Sudah menjadi rahasia
bejat semua orang bahwa pemerintah belum mengalokasikan 20% dana APBN untuk pendidikan. Dan juga sudah menjadi rahasia dunia internasional bahwa kita berada pada urutan 100 sekian di antara 177 negara Asia.
Apa yang kita lakukan pada dunia pendidikan kita? Kita sudah (ke)terlalu(an) lama berdebat masalah dana dan UN yang tidak rasional...
KAPAN KITA AKAN MEMBICARAKAN BAGAIMANA MERAIH HADIAH NOBEL UNTUK FISIKA, KEDOKTERAN, EKONOMI, ....
OH PENDIDIKAN, OH PENDIDIKAN...
Labels: pendidikan
uiiihhh, Cuihhh, Cuiiihhhhhh, aku benci sekali. Benci. Coba deh, temen-temen baca Koran beberapa tahun ini (nggak Cuma beberapa hari ini) terutama menjelang Hari Pendidikan Nasional. Isi semua Koran, majalah dan beberapa siaran televisi dan beberapa situs berita internet tidak lain kecuali kekecewaan, umpatan, tangisan, komplain, dan entah apa lagi bahasanya. Semua negatif, menyedihkan dan sangat tragis-ironis karena itu terjadi pada dunia pendidikan.
Sekadar contoh, aku ambilkan beberpa judul tulisan berita feature dan opini yang dimuat Harian KOMPAS sejak akhir April dan awal Mei 2008: “UN Harus Dihentikan,” “Sindrom Penghukuman,” (keduanya opini) “Peserta UN Kecewa, berita feature (KOMPAS, 30/4). “Hari Pendidikan Nasional Robohnya “Sekolah” Kami, (berita feature), “Pendidikan yang Menyesatkan,” “Pendidikan Ademokratis,” “UN, Berhala Pendidikan Nasional,” (keduanya opini) “Hardiknas Diwarnai Unjuk Rasa, berita feature (KOMPAS, 3/5). “Indonesia Butuh Guru Bangsa,” tulisan feature, dan “Sekolah Gartis, Pepesan Kosong” (KOMPAS, 28/4). Itu Cuma satu Koran. Belum Koran yang lain, majalah, televise, dan berita di internet.
Aku gamang dan buta: apa sebenarnya yang terjadi dengan dunia orang-orang pinter, akademis, Doktor, dan Profesor ini. Aku tidak sampai habis pikir, sepertinya, mereka yang pinter-pinter itu suaaaangat BODOH sekali. Tak berkutik. Diam satu bahasa: Emoh! Menyerah-kalah (?).
Apa semua berita itu Cuma isapan jempol belaka, bukan fakta, bukan realita, bukan sebuah cemoohan, bukan sebentuk kegagalan…Benar, ada beberapa berita dunia pendidikan yang sempat membesarkan hati kita, seperti beberapa anak bangsa yang merah piala olimpiade fisika internasioan. Tapi terus terang harus, sekali lagi harus, diakui itu bukan hasil dari system pendidikan yang dipakai. Tapi dari sebuah pencarian bibit unggul dan pelatihan tersendiri, yang dilatih secara khusus. Bukan hasil dari system pendidikan kita. Bukan.
Setidaknya itulah kesimpulanku yang didapat dari beberapa buku, tulisan artikel opini dan beberapa laporan berita.
Jangan pernah bertanya: kapan kita bisa menciptakan peraih nobel fisika-ekonomi-kedokteran-dll, peraih nobel perdamaian, peraih nobel sastra, penemu teori A, pencetus ide B,…? Sekali-kali JANGAN. Bukan maksud hati untuk HOPELESS, putus asa, ngggak ada harapan. Bukan. Tapi, coba kita pikir, selama ini kita berkutat dengan masalah dana, dana, dana, uang, uang, uang, kesejahteraa, kesejahteraan, kesejahteraan, inkompetensi guru-dosen, inkompetensi ini-itu, kekurangan peralatan, robohnya fasilitas C…Uh, stop, udah diperpanjang aja sendiri.
Menurut aku harus ada ide mendasar untuk membereskan dunia pendidikan. Katakanlah semacam “revolusi pendidikan”.
Aku heran kenapa ide atau teori revolusi lahir dari dan untuk (?) dunia sosial-politik. Menurut aku teori itu seharusnya terlahir dan teruntuk dunia pendidikan. Kita tahu, semua perubahan menuju yang baik tidak akan pernah berjalan dengan baik tanpa ilmu pengetahuan!
Uuuhhh. Aku benci membaca opini dan berita dunia pendidikan kita. Cuuiiihhhh!!![]
Surakarta, 3 Mei 2008
Labels: pendidikan